Mata saya sedikit menyempit saat membaca sebuah kisah menarik dalam buku "Asmaul Husna Effects", Bab yang di bahas disini adalah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Demikian sebuah kisah yang saya kutip :
"Alkisah, di sebuah negara Afrika terjadi perang saudara yang merenggut puluhan ribu nyawa. Peperangan ini tidak saja menyisakan duka yang mendalam, tetapi juga meninggalkan kepedihan yang berkepanjangan. Inilah yang dialami sebuah keluarga saat desanya diluluhlantakkan. Sang anak harus rela melihat ayahnya dibunuh dan sang ibu pun diperkosa di depan matanya. Setelah itu, kedua tangan sang ibu dipotong. Kemudian dengan tanpa perasaan, tangan sang anak pun di potong. Hanya atas karunia Allah, mereka tidak meninggal.
Setelah kejadian yang sangat cepat itu berlalu, seluruh sudut desa dibakar hingga tidak menyisakan rumah satu pun. Semua penduduk tewas kecuali mereka berdua. Demi menyelamatkan diri dan anaknya, dengan tangan terputus dan masih mengeluarkan darah, sang ibu berusaha menggendong anaknya dari tempat itu. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, ia berjalan. Setelah beberapa hari, tibalah keduanya di sebuah desa yang cukup besar. Perjuangan mereka tidak sia-sia, penduduk di desa tersebut membawa mereka ke sebuah klinik dan akhirnya nyawa mereka terselamatkan.
Apa yang menyebabkan sang ibu mampu berjalan sejauh itu? padahal , ia harus menggendong anaknya dalam kondisi yang tidak normal. Tangannya terputus dan darahnya masih keluar, yang tentu saja sakitnya tidak terperikan. Kekuatan apa yang mendorong sang ibu melakukan hal yang di luar nalar itu? Kekuatan itu adalan kekuatan cinta. Atas dasar kasih sayanglah, sang ibu rela berjalan jauh demi menyelamatkan anaknya.
Kisah senada pernah diungkapkan pula oleh Rasulullah saw. Pernah, suatu hari Rasulullah bersama para sahabat dalam perjalanan kembali dari perang melihat seorang ibu lari menyeruak ke tengah-tengah bekas pertempuran. Ia gelisah, wajahnya menyimpan kekhawatiran yang mendalam. ia sedang mencari putranya. Ia berlari dihadang debu yang beterbangan disapu angin.
Akhirnya, ia menemukan putranya tersebut. Didekapnya sang putra penuh kerinduan bercampur kecemasan. Diberinyalah air susu. Matahari menyengat panas mengenai kulit anak itu. Dengan perlahan, ibu tersebut menggerakkan tubuhnya, dihadangnya sengatan matahari itu dengan punggungnya. Rasulullah menyaksikan kejadian itu lalu berkata kepada sahabat yang lain, "Lihat, betapa sayangnya ibu itu kepada anaknya. Mungkinkah ibu itu melemparkan anaknya ke api neraka?" Para sahabat menjawab,"Tidak mungkin, ya, Rasulullah." Lalu, Rasulullah berkata,"Kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu itu."
Sebuah kisah yang mampu menjadi pelajaran sangat berharga tentang Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, semoga karunia Allah kepada kita akan sifat kasih dan sayang dalam diri kita dan tentunya kekuatan untuk mampu mengaplikasikan dengan baik pada kehidupan kita sehari-hari demi mencapai kebahagiaan dunia wal akhirat.
